Tetap Optimis Saat Menjalani Isolasi Mandiri

Juli 04, 2021

Qadarullah satu bulan yang lalu Allah memberikan kami sekeluarga ujian sakit terpapar virus covid-19. Pasca lebaran kota tempat tinggal saya masuk dalam kategori zona merah, dengan lonjakan kasus  tertinggi di Jawa tengah. Awalnya kami juga merasa cukup terkejut dengan fakta tersebut. Berita kematian hampir setiap hari terdengar dari toa masjid tempat kami tinggal, sampai akhirnya kami sekeluarga minus anak yang bungsu dan nomer dua, mengalami gejala terpapar covid.

Kami mengalami gejala dua minggu setelah lebaran. Awalnya suami yang merasakan gejala demam, pusing, batuk pilek, lemas, anosmia dan juga diare. Beliau sudah langsung melakukan isolasi mandiri di kamar lantai bawah. Setelah empat hari isolasi, ternyata saya dan anak pertama menyusul mengalami gejala yang sama. Si sulung batuk pilek dan anosmia, sementara saya demam, batuk pilek, anosmia, diare, muntah dan juga lemas. 

Ternyata adik ketiga saya juga mengalami gejala covid, dia pun langsung melakukan isolasi mandiri juga di rumah. Beruntung suami dan kedua anaknya tidak terpapar. Ramailah grup wa keluarga kami memantau kondisi keluarga saya dan adik yang terpapar covid. Banyak sekali motivasi dan juga logistik yang di kirimkan ke rumah oleh anggota keluarga yang tidak terpapar dan tinggal satu kota dengan kami.

Foto : Dokumen pribadi

Beruntung adik bungsu saya adalah seorang nakes di sebuah rumah sakit pusat di kota provinsi. Dia memberikan pengarahan apa yang harus kami lakukan saat isolasi mandiri dan juga mengirimkan vitamin serta oxsimeter. Kami pun menjalani isolasi mandiri dengan pantauan dari adik yang nakes tersebut. Kami bertiga menempati ruang kamar yang berbeda-beda. Suami tetap di lantai bawah, sementara saya dan si sulung di lantai dua dengan kamar berbeda.

Dari kami bertiga, saya yang mengalami gejala paling parah. Selama tiga hari muntah, diare dan lemas, sampai tidak kuat untuk melakukan salat sambil berdiri, sehingga salat saya lakukan dengan duduk di kursi. Adik saya yang nakes terus memantau kondisi saya, dengan mengarahkan konsumsi dosis obat yang harus saya minum dan kurangi dengan kondisi tersebut. 

Saya pun terus berusaha untuk sehat dengan menaikkan imun. Saya melakukan berbagai hal yang disarankan oleh adik. Lalu apa saja yang saya lakukan saat isolasi mandiri di rumah?

Berjemur

Kami berjemur setiap pagi selama masa isolasi mandiri selama 20-30 menit. Beruntung kami memiliki loteng yang terletak di sebelah kamar anak saya. Setiap pagi kami bergantian berjemur, atau kalaupun bareng, kami tetap jaga jarak.

Konsumsi Vitamin dan Makanan Sehat Serta Bergizi

Adik saya mengirimkan banyak vitamin yang harus kami konsumsi setiap hari selama jangka waktu tertentu. Dia memberikan petunjuk via grup wa keluarga, berapa dosis vitamin yang harus kami konsumsi setiap harinya. Selain itu saya juga mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. 

Tetap Jaga Protokol Kesehatan

Meskipun isolasi mandiri di rumah, tetap taati protokol kesehatan dengan anggota keluarga yang lain, terutama yang tidak terpapar, seperti memakai masker, jaga jarak dengan anggota keluarga, rajin cuci tangan, memisahkan alat makan dan juga pakaian kotor. 

Berpikir Positif

Pikiran yang positif dan selalu optimis akan membantu menaikkan imun kita, sehingga akan mempercepat proses penyembuhan. Saya menghindari melihat berita-berita tentang perkembangan covid-19 di sekitar lingkungan rumah dan di media sosial, serta fokus pada penyembuhan diri dan keluarga. Selain itu rasa optimis juga selalu kami tanamkan dalam hati, agar semangat untuk sehat terus menyala.

Sabar

Sabar adalah salah satu kunci agar proses isolasi mandiri ini bisa berjalan dengan lancar dan kita bisa sembuh dari covid. Sabar menjalani setiap prosesnya, sabar dalam mengkonsumsi berbagai vitamin, sabar menjalani semua anjuran selama isolasi dan sabar dalam menerima ujian sakit ini.

Mendekatkan Diri Kepada Allah

Upaya terakhir dan paling penting adalah terus berupaya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah. Ujian sakit merupakan ujian yang paling berat menurut saya, sehingga ketika Allah berkehendak mengangkat penyakit yang ada dalam diri kami, maka kami merasa sangat bersyukur. Dengan terus mendekatkan diri kepada Allah, maka hati akan terasa tenang dan pasrah.

Tetap optimis saat menjalani isolasi mandiri di rumah dan jangan terpengaruh dengan berita-berita negatif di luar. Alhamdulillah setelah melewati masa isolasi selama 14 hari, kami bertiga melakukan tes rapid antigen, dan dinyatakan negatif. Rasa syukur terus memenuhi rongga dada kami. Pengalaman sakit itu memberikan kami banyak pelajaran, di tengah-tengah kondisi semakin banyaknya korban yang meninggal karena covid-19 di lingkungan sekitar kami.

Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya, itulah yang selalu kami yakini, sehingga rasa optimis dan prasangka baik selalu kami tanamkan dalam pikiran, dan itu memberikan efek dalam proses pemulihan kami. Selama menjalani proses isolasi mandiri kemarin, kami banyak bersyukur, salah satunya adalah anak bungsu saya yang berusia 7,5 tahun sehat dan tidak terpapar, sehingga saya bisa menjalani isolasi mendiri dengan lebih tenang, dan satu lagi, saya bersyukur karena memiliki adik seorang nakes sehingga bisa mendampingi kami menjalani isolasi mandiri di rumah.

Semoga pandemi ini segera berakhir, dan buat teman-teman yang saat ini masih diuji dengan sakit, semoga Allah mengangkat penyakitnya, memberikan kesembuhan yang sempurna, senantiasa diberikan kesabaran dalam menjalaninya dan tetap optimis saat menjalani isolasi mandiri di rumah.

Salam hangat

Ulfah Wahyu 

 


You Might Also Like

40 komentar

  1. Semoga mba sekeluarga segera sembuh ya mba, karena support dari orang sekitar sangat penting sekali terlebih disaat seperti ini.

    Dan jangan anggap remeh juga,karena siapapun bisa terpapar virus ini bila tidak patuhi protokol kesehatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, kami sudah sembuh sejak sebulan lalu mbak. Sekarang tetap berhati2 dengan mentaati prokes menjaga daya tahan tubuh serta senantiasa berdoa.

      Hapus
  2. Alhamdulillah, semoga selalu sehat ya, Mbak. Ikut merasakan kok, rasanya terpapar virus satu ini. Makanya saya suka cerewet kepada murid-murid di grup WA agar selalu menjaga kesehatan dan patuh pada prokes.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak, memang harus aaling mengedukasi ya mbak biar paham dan sama2 menjaga diri dan sekitar.

      Hapus
  3. Alhamdulillah semua bisa sehat kembali ya, Mbak. Selain mengonsumsi vitamin dan makanan bergizi, selalu berpikir positif itu memang kunci utama agar cepat pulih ya..
    Semoga pandemi ini segera berlalu dan kita semua sehat selalu. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak alhamdulillah, semangat sehat dan terus berdoa.

      Hapus
  4. Alhamdulillah sekarang udah sehat ya mba Ulfah, semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi kita. Diberikan kesehatan dan keberkahan dalam hidup kita. Makasih sharingnya mba. Bisa jadi pengalaman buat kami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, aamiin mbak semoga bermanfaat.

      Hapus
  5. Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya, itulah yang selalu kami yakini, sehingga rasa optimis dan prasangka baik selalu kami tanamkan dalam pikiran, dan itu memberikan efek dalam proses pemulihan kami.


    Ahh, setujuu mba. Kita memang kudu ber-positive thinking terhadap takdir ALLAH ya.
    Bermohon, bermunajat dan tawakkal kepada-NYA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, benar2 pasrah tetapi tetap optimis dan ada ikhtiar untuk sembuh

      Hapus
  6. Semakin banyak kabar tentang teman-teman yang melakukan isoman, harapannya semoga teman-teman, termasuk mam ulfah bisa melalui isoman ini ya. Semoga lekas pulih dan makin kuat ya mam...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih doanya mbak. Kami alahamdulillah sudah sehat sejak satu bulan lalu.

      Hapus
  7. Pikiran positif memang jadi hal.utama mbak.dan berusaha jauh dari informasi medsos atau tivi yang mengabarkan jumlah kematian karena akan membuat drop pasien yg sedang isoman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, bikin tidak fokus dalam proses pemulihan. Jadi lebih memilih untuk fokus merawat diri dan keluarga saja mbak.

      Hapus
  8. "sabar" memang yang terpenting mbak
    dengan sabar, kita bisa lebih ikhlas, lebih tenang dalam menghadapi cobaan
    juga selalu yakin bahwa ada hikmah di balik ini semua


    sehat2 ya mbaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, sabar menjalani semua proses penyembuhannya sangat penting untuk menaikkan imun.

      Hapus
  9. Terima kasih mbak ulfah sudah berbagi pengalamannya.

    Gak kebayang mbak mungkin saat itu ya, untung ada saudara yang nakes jadi bisa terkontrol, harus ngapain aja.

    Badai pasti berlalu poinnya ya, mbak ulfah.

    Saya juga ikut mengaminkan agar corona ini segera berlalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, tetap bersyukur dibalik semua ujian ini, ada banyak hikmah yang bisa kita ambil.

      Hapus
  10. i felt you Mbak Ulfah, 2 minggu lalu akupun harus isoman. sendiri di lantai 2. rindu sedihnya saat terpisah dengan anak-anak suami. namun ya harus pasrah saja ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak demi kebaikan bersama harus sabar ya

      Hapus
  11. Alhamdulillah klo sudah sehat ya mbak
    memang saat isoman adalah saat yang berat, tapi tetap harus dijalani dengan semangat dan produktif ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak, sabar biar cepat proses sembuhnya.

      Hapus
  12. Syukurlah kalau tesnya udah negatif. Alhamdulillah sudah melewati hari yang engga mudah selama isoman kemarin-kemarin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga kita semua diberikan kesehatan oleh Allah, bisa melewati semua ujian ini dengan lapang hati.

      Hapus
  13. Sedih banget akhir-akhir ini justru dapet kabar yang kena tuh orang-orang yang aku kenal. Sehat-sehat buat kita semua, dan semoga pandemi ini segera berakhir, aamiin...

    BalasHapus
  14. Makin optimis walau diuji dengan covid, semoga kita semua selalu dalam lindungan allah swt, diberi kesabaran luar biasa dan selalu berpositif tinking.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Positif thingking dan terus berikhitiar sehat mbak.

      Hapus
  15. MashaAllah~
    Semoga Allah senantiasa melindungi keluarga kak Ulfah.
    Ujian pandemi ini sungguh terasa yaa...dimana kita diminta untuk lebih banyak bersabar dan ingat Allah dengan menerima segala ketentuanNya.

    Syafakumullah, kak Ulfah.

    BalasHapus
  16. Alhamdulillah sudah pulih kembali ya mba sekeluarga. Memang harus banyak positif thinking ketika menjalani pemulihan mba. Di rumahku suamiku yang terkena paparan dan pas kondisinya drop, sampe masuk rumah sakit. Aku dan keluarga jaga-jaga ya isoman aja mba. Alhamdulillah sekarang kami sehat dan semoga aja kita semua selalu diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menghadapi masa pandemi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin doa yang sama buat mbak Uniek sekeluarga semoga sehat selalu.

      Hapus
  17. Alhamdulillah sudah sehat, bisa berbagi pengalaman dan manfaat untuk orang lain. Semangat ya mbak, sehat seterusnya.

    BalasHapus
  18. Meningkatkan kesehatan mental dan spiritual memang sangat penting saat isolasi mandiri. Insyallah dengan keseimbangan anatara ketiganya akan membuat kita sehat secara sempurnah. Semangat ya semuanya, bisa yuk bisa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak, harus seimbang biar proses pemulihannya cepat dan tepat.

      Hapus
  19. Alhamdulillah sekarang sudah sehat ya, Mbak. Kalau baca cerita para survivor Covid-19 ini memang luar biasa ya perjuangannya, apalagi yang isoman. Semoga selalu sehat ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semacam titik balik buat kehidupan kita mbak, sebagai pengingat diri bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Makasih doanya.

      Hapus
  20. Alhamdullilah, aku merasakan betul kalau berpikir positif adalah kunci penting untuk melawan reaksi virus covid 19, semoga pandemi ini cepat berlalu ya...

    BalasHapus