Buku Harian Diana

November 29, 2021

  


     Aku sering melihatnya di pagi dan sore hari, saat akan berangkat dan pulang sekolah. Seorang gadis yang kira-kira seumuranku itu sering terlihat membersihkan halaman dan menyapu teras rumah tingkat dua, bercat coklat tua kombinas putih itu.  

    Wajahnya tampak pucat, matanya kelihatan selalu mengantuk, dan gerakan tubuhnya pun tampak lambat. Aku sering sekali memperhatikan dirinya, ada sesuatu yang menarik perhatianku dengan semua kondisinya itu. 

    Kami baru saja pindah ke rumah ini satu minggu yang lalu, karena rumah yang lama akan di pakai untuk toko oleh Papa, karena letaknya yang cukup strategis.  Beliau memutuskan keluar dari pekerjaannya di perusahaan elektronik dan  membuka toko elektronik sendiri di rumah kami yang lama. Akhirnya Papa membeli rumah yang agak kecil di pinggiran kota. Meskipun tidak sebesar rumah yang di kota dulu, namun rumah kami yang baru ini mempunyai halaman yang lebih luas dengan banyak tanaman.

    Letaknya di dalam sebuah gang, dan rumah kami terletak di ujung, berhadapan dengan rumah si gadis itu. Aku dan Mbak Reni, kakakku yang sudah kuliah semester lima itu harus beradaptasi dengan lingungan baru yang masih tergolong sepi ini. Rumah tetangga hanya beberapa saja, itupun letaknya agak berjauhan di batasi oleh beberapa tanah kosong. Jadi rumah terdekat dengan kami adalah rumah si gadis itu.

    Pernah aku dan Mbak Reni mencoba menyapa gadis itu, saat kami sedang berada di halaman rumah, di sore hari.

    "Hallo, salam kenal, namaku Rina dan itu kakakku Reni," ucapku sambil tersenyum manis.

    Dia hanya mengangkukkan kepala sambil tersenyum. Wajah pucatnya tampak murung. Belum sempat kami mengobrol lebih jauh, dan aku bahkan belum bertanya siapa namanya, tiba-tiba, terdengar sebuah panggilan dari dalam rumah, membuat gadis berwajah pucat itu segera menutup pintu gerbang rumahnya dan berlari masuk ke dalam. Dari jauh aku melihat seorang wanita kira-kira seusia Mama, mendelik sambil berkacak pinggang di depan pintu.

    "Aneh ya, Mbak. Masak sih sama Ibunya takut banget. Apa jangan-jangan Ibunya galak ya," kataku penasaran.

    "Barangkali Ibunya mempunyai alasan, kenapa bersikap begitu," ujar Mbak Reni santai.

    Kami pun segera masuk ke dalam rumah. Jujur, aku merasa penasaran dengan gadis itu. Setahuku penghuni di rumah itu ada tiga orang. Si gadis berwajah pucat, Ibunya yang galak dan seorang laki-laki yang mungkin adalah ayah gadis itu. Aku mengetahui hal itu, saat mengantarkan roti ke sana, sewaktu kami baru pindah ke rumah ini. Kata Mama, itu salam perkenalan sebagai tetangga baru.

    Hari terus berlalu. Aku masih saja melihat gadis pucat itu melakukan aktivitas yang sama setiap hari. Aku bahkan berpikir, apakah dia tidak sekolah? Pernah aku sengaja menunggu dia keluar rumah saat sore hari. Kebetulan itu hari libur, aku sengaja menunggu dia di halaman rumahku. Tidak berapa lama kemudian, gadis pucat itu keluar sambil membawa peralatan menyapunya. Aku segera menghampirinya dengan berdiri di luar pagar rumahnya.

    "Hai, namamu siapa," tanyaku sambil tersenyum.

    Dia tampak kaget dengan pertanyaanku itu. Namun, tidak lama kemudian, menghentikan pekerjaannya dan menghampiriku.

    "Namaku Diana," jawabnya setengah berbisik.

    "Kita sepertinya seumuran ya, kamu sekolah di mana sih," tanyaku lagi.

    Wajahnya menunduk. Aku melihat setetes air mata jatuh di pipinya yang pucat itu.

    "Hei! Kok malah menangis, maaf ya, kalau pertanyaanku membuatmu sedih," lanjutku lagi. 

    Aku merasa bersalah karena sudah membuat Diana bersedih. Dia hanya menggelengkan kepalanya, sambil mengusap air mata di pipi pucatnya itu.

    Belum sempat kami mengobrol lebih jauh lagi, tiba-tiba terdengar suara panggilan dari dalam rumah itu. Diana segera bergegas masuk ke dalam rumah, tanpa memperhatikan aku yang masih penasaran.


    Sejak percakapan kami di sore itu. Beberapa hari kemudian, aku tidak pernah lagi melihat Diana. Entah, apa yang terjadi dengan gadis itu. Aku bahkan sengaja menunggu dia keluar rumah untuk menyapu seperti biasanya. Namun, sudah tiga hari ini aku tidak menjumpainya.

    "Kemana ya Kak, dia, aku kan masih ingin mengobrol lebih jauh lagi dengan Diana," kataku kepada Mbak Reni.

    "Mungkin dia pergi ke luar kota, atau sakit barangkali," ucap Mbak Reni.

    Rasa penasaran benar-benar membuatku ingin datang ke rumah itu dan bertanya kepada Ibu atau Ayahnya Diana.

    Namun mbak Reni melarangku, dia bilang tidak usah ikut campur sama urusan orang, apalagi baru kenal.

    "Kalau ketemu dia lagi saja kamu tanya, sekarang tunggu saja, jangan sampai mereka marah sama kamu karena terlalu ingin tahu," ujar mbak Reni.

    Aku hanya mencebikkan bibir mendengar nasehatnya itu. Jujur jiwa penasaranku sudah meronta-ronta ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Diana. Tapi ada benarnya juga sih ucapan mbak Reni, huh ... aku jadi merasa kesal sendiri.

    Setelah hampir satu minggu aku tidak bertemu Diana, hingga di suatu sore  saat pulang dari sekolah. Aku di kejutkan dengan banyaknya warga yang berkumpul di depan rumahku dan Diana. Di sana juga ada mobil polisi dan beberapa orang anggota kepolisian yang memasang garis polisi di rumah Diana. Aku merasa heran. Ada apakah ini?

    Aku melinat Mbak Reni, Mama dan Papa berada di kerumunan orang-orang itu. Gegas kudekati mereka dan bertanya kepada Mbak Reni.

    "Ada apa sih Mbak, kok banyak orang dan polisi itu memasang garis polisi di rumah Diana," tanyaku setengah berbisik.

    Mbak Reni menarik tanganku menjauh dari kerumunan, dia berbisik pelan di telingaku.

    "Diana membunuh kedua orangtua angkatnya itu. Ternyata, mereka itu bukan Ayah dan Ibu kandungnya. Setelah menghabisi orang tua angkatnya, Diana menelepon polisi kalau dia baru saja menghabisi nyawa seseorang. Akhirnya polisi datang ke sini, dan menemukan mayat kedua orang tua angkat Diana sudah tergelatak di ruang tamu berlumuran darah," terang Mbak Reni dengan wajah serius.

    Tiba-tiba aku merasa kedua kakiku lemas seolah tak bertulang, dan jantungku berdetak dua kali lebih kencang, tubuhku bergetar, aku bergidik mendengar cerita Mbak Reni. Ya Allah, jadi selama ini aku berbincang-bincang dengan seseorang yang mempunyai jiwa pembunuh. Aku merasa miris dan ngeri membayangkan semua itu.

    Aku memutuskan masuk ke dalam rumah, rasanya tidak sanggup lagi untuk berdiri, aku benar-benar syok mendengar kabar itu.

    Sehari setelah peristiwa pembunuhan itu, aku jadi tidak berani keluar rumah sendirian di malam hari, walaupun itu hanya ke teras depan. 

    Keesokan harinya, berita tentang pembunuhan itu sudah menyebar kemana-mana. Media online segera memberitakan peristiwa itu. Ada satu hal yang membuatku terkejut. Telah di temukan bukti berupa buku harian milik Diana yang berisi tentang curahan hatinya yang penuh nestapa. Menurut Psikolog yang menangani kasusunya, dari buku itu juga di ketahui kalau gadis berwajah pucat itu tenyata mengidap gangguan jiwa karena depresi yang sudah di deritanya sejak lama. 

    Dari cerita yang aku dengar melalui Papa, sebenarnya kedua orang tua angkatnya sudah berusaha untuk menyembuhkan penyakit jiwanya itu. Akan tetapi, kisah masa kecil gadis malang itu membuatnya benar-benar terpuruk, dan  sejak sebulan yang lalu Diana semakin sering berhalusinasi, lalu puncaknya adalah peristiwa pembunuhan itu.

    Aku merinding membaca berita itu, membayangkan wajah pucat Diana dan senyum yang tersembunyi di balik jiwanya yang sunyi.

Cerita ini ada dalam buku solo saya yang berjudul Elegi Kopi Pagi

Salam hangat

Ulfah Wahyu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

You Might Also Like

1 komentar