Review Buku : Menjadi Ayah Pendidik Peradaban

Februari 10, 2021


Judul Buku    : Menjadi Ayah Pendidik Peradaban

Penulis           : Adriano Rusfi, dkk

Penerbit         : Hijauborneoku

ISBN              : 978-602-51836-1-4

Cetakan         : Pertama November 2018

Ayah Pulanglah... Ayah kembalilah ke fitrahmu

Sepotong kalimat ini cukup membuat saya tersentak dan kaget. Kesadaran tetiba muncul, setelah membaca buku ini. Ayah adalah sosok imam dan nahkoda dalam rumah tangga. Sosok yang kehadirannya selalu dirindukan setelah seharian berada di luar rumah.

Selama ini saya seringnya membaca atau mengikuti kegiatan parenting dengan tema yang global, yaitu peran orang tua dalam mendidik anak. Nah, ketika suatu hari saya ditawari teman buku ini, jujur saya langsung tertarik. Parenting dengan tema Ayah, karena jarang sekali parenting yang mengkhususkan tema ini. 

Buku dengan tebal 140 halaman ini sangat menarik. Membahas tentang peran Ayah dalam mendidik anak. Selama ini mungkin kita sudah merasa nyaman dengan pembagian peran dalam rumah tangga, dimana Ayah yang berkewajiban bekerja mencari nafkah, sementara Ibu di rumah mengurus anak dan bertugas sebagai manajer operasinal dalam rumah tangga.

Namun, setelah membaca buku ini wawasan saya semakin terbuka tentang peran Ayah yang sebenarnya dalam pendidikan anak. Dalam buku ini disampaikan bahwa penanggung jawab utama pendidikan anak adalah Ayah, sementara Ibu adalah pelaksana pendidikan. 

Baca Juga : Review Buku Seri 10 Shahabiyah Wanita Mulia

Dalam Al Quran Allah mengisahkan kisah-kisah bagaimana mendidik anak, dan semuanya dilakukan oleh Ayah. Ada tujuh belas ayat dalam Al Quran yang menjelaskan peran orang tua dalam mendidik anak, empat belas ayat di antaranya dilakukan oleh sosok Ayah, dua ayat dilakukan oleh Ibu dan satu ayat dilakukan oleh keduanya.

Buku ini terdiri dari tiga bab yang masing-masing bab berisi tentang pentingnya peran Ayah dalam mendidik anak, cerita inspirasi tentang Ayah-Ayah hebat dalam mendidik buah hati tercinta. Ada beberapa peran penting dalam pendidikan anak yang hanya bisa dilakukan oleh sosok Ayah, di antaranya adalah membangun ego anak, pembangunan cara berpikir anak, bagaimana anak bisa berpikir dan bertindak, serta berkarakter dalam mengatasi masalah dalam kehidupannya. Semua peran itu hanya bisa dilakukan oleh sosok yang bernama Ayah.

Membaca buku ini semakin memberikan saya banyak pengetahuan tentang pentingnya sosok Ayah dalam pendidikan anak. Jangan sampai terjadi sebuah kondisi, dimana Ayah ada tapi tiada. Apalagi di era digital ini, sosok Ayah yang sudah sibuk seharian bekerja di luar rumah, dan setelah kembali ke rumah justru asyik dengan gadget.

Foto : Dokumentasi Pribadi

Kelebihan Buku

Dengan tebal 140 halaman, saya mampu menyelesaikan buku ini hanya dalam sekali duduk. Ditulis dengan bahasa yang sederhana, dan diselingi dengan kisah-kisah inspiratif tentang Ayah, membuat buku ini tidak hanya sekedar transfer teori, tetapi ada juga contoh-contoh nyata yang bisa menjadi inspirasi bagi pembaca. 

Kekurangan Buku

Ada delapan halaman di buku ini yang tercetak kebalik, yaitu halaman 125-132, sehingga mengurangi kenyamanan dalam membaca. Sehingga membuat saya cukup pusing karena harus bolak-balik buku. 

Sepanjang sejarah peran Ayah tidak akan pernah tergantikan. Ada sosok-sosok Ayah hebat pada zamannya, yaitu Lukmanul Hakim yang mendidik anak dan keluarganya, kisah Ibrahim dan putra kesayangannya, kisah Imron, Zakaria dan Yakub yang berperan langsung dalam mendidik anak-anaknya. 

Ada satu kutipan yang disampaikan oleh Ibu Septi Peni Wulandari (Founder Institut Ibu Profesional). 

Ayah hebat bukanlah ayah yang sempurna, melainkan ayah yang dengan segala keterbatasannya bisa tetap menghadirkan dirinya, hatinya, dan pikirannya untuk anak dan keluarga.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk di baca oleh para Ayah, agar mereka mengetahui bagaimana pentingnya peran Ayah sebagai pendidik peradaban. Selamat membaca.

Salam hangat

Ulfah Wahyu

 



You Might Also Like

8 komentar

  1. Iya betul mbak..selama ini pola pengasuhan anak hanya terpusat pada ibu yang ada di rumah..padahal ayah juga adalah orangtua dari si anak...sehingga penting bagi ayah untuk tetap melibatkan diri dalam pengasuhan anak..buku yang makjleb sebagai pengetahuan tentang peran ayah bagi keluarga dan anak....🥰🥰

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kita bisa ssling besinergi dengan pasangan dalam mendidik anak ya mbak.

      Hapus
  2. Iya ya mba, selama ini kalo ngomongin masalah pola asuh kebanyakan dari sisi ibu. Padahal ayah juga punya peran penting dalam membentuk kepribadian anak. Senangnya ada buku yang khusus membahas hal ini ya. Jadi bikin orang tua tambah wawasan lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, jadi semakin terbuka wawasan tentang pola asuh yang benar.

      Hapus
  3. Suka banget dengan kalimat di bawah itu, dengan segala keterbatasan, terlebih di masa pandemi ini ya.
    Seorang ayah masih bisa memberikan segala perhatian dan kehadirannya untuk anak-anak dan keluarganya :)

    BalasHapus
  4. Para AYAH wajib baca ini mah
    karena gak sedikit bapack2 yg ogah terlibat utk ngasuh anaknya.
    ngeselin bgt dahh

    BalasHapus
  5. Zaman sekarang, mendidik anak tidak hanya dilimpahkan kepada ibu. Karena tugas ibu itu tidak ringan. Terutama kalau sang ibu bekerja di luar rumah. Ayah selaku pemegang kendali dalam rumah tangga harus terlibat dalam mendidik anak. Ingat. Anak itu tidak hanya perlu makan, lebih dari itu mereka sangat membutuhkan sentuhan, kasih sayang dan perhatian.

    Buku yang bagus, direview pula dengn sangat bagus. Terima kasih telah berbagi, Mbak Ulfah.

    BalasHapus
  6. wah para ayah wajib nih baca buku ini biar nggak melulu bilang ibu itu bertanggung jawab buat mendidik anak. soalnya tanggung jawab itu adanya di orang tua bukan ibu doang. heu

    BalasHapus